Kamis, 08 September 2011

Refleksi Post Modernisme

Berdasarkan yang dikemukakan Charles Jencks mengenai ciri Arsitektur post modern, penulis amat tertarik terhadap arsitektur post modern. Arsitektur post modern memiliki konsep yang amat menarik mulai dari Double coding of Style, dimana kaidah arsitektur yang tereduksi dalam arsitektur modern dapat kembali berkembang sehingga ide atau gagasan yang umum serta tidak terikat terhadap kaidah tertentu, tetapi memiliki fleksibilitas yang beragam. Hal ini lebih baik dari pada gagasan tunggal seperti yang diusung dalam modernisme.

Dari poin di atas, arsitektur mampu berkembang tidak lagi sekedar hunian atau wadah suatu aktivitas belaka tetapi juga menjadi suatu sarana berbahasa yang mampu mengkritisi dan bahkan berpuisi melalui Semiotic form. Semiotic form memungkinkan penampilan bangunan mudah dipahami karena bentuk–bentuk yang tercipta menyiratkan makna atau tujuan atau maksud. Diharapkan dengan hal ini munculah suatu paradigma baru di mana bangunan dapat lebih partisipatif dimana lebih menonjolkan suatu kebersamaan serta mengurangi sikap borjuis seperti dalam arsitektur modern. Dalam konteks ini, berkembanglah hakekat seorang arsitek tidak sekedar perancang bangunan tetapi bisa juga sebagai wakil penerjemah terhadap berbagai fenomena yang ada di sekitar melalui bangunan yang dirancangnya sekaligus nabi yang meretas jalan ke arah kehidupan masyarakat yang lebih baik

Dengan arsitektur kontemporer, setiap arsitek dapat memadukan berbagai hal modern dengan unsur-unsur lain yang mampu memperkaya arsitektru itu sendiri mulai dari hal yang bersifat lokal konteksutal sampai metaphora yang kaya akan makna. Sehingga, setiap pengamat diajak menikmati, mengamati, dan mendalami secara lebih seksama
Arsitektur postmodern tidak lagi mempersempit ruang lingkupnya dalam sangkar semboyan form follows function melainkan mendefinisikan arsitektur sebagai sebuah rasa sehingga arsitektur tidak mewadahi melainkan mengkomunikasikan.
Hal yang dikomunikasikan adalah bisa berupa identitas regional, identitas kultural, dan identitas historikal. Hal-hal yang ada di masa silam itu dikomunikasikan, sehingga orang bisa mengetahui bahwa arsitektur itu hadir sebagai bagian dari bagian dari perjalanan manusia dipadukan dengan kemampuan teknologi dan bahan untuk berperan sebagai elemen artistic dan estetik yang terus berkembang setiap saat.

GAUL AMA OMA OMA

Sebetulnya, ada perasaan berat ketika berlibur panjang ada tugas dari kepamongan. Tapi, apa boleh buat…, toh hal ini juga untuk kebaikan saya juga. Salah satu tugas yang agak berat adalah live in minimal tiga hari dua malam. Awalnya ada kebimbangan saya melakukan ini sebab terus terang saya belum pernah terjun langsung melakukan hal yang seperti ini. Sepintas ada bayangan panti wreda “Nazaret” di lingkungan gereja paroki saya. Namun, entah kenapa ada perasaan malas pergi ke sana. Tiba-tiba aja, ada dorongan untuk berbohong kalau saya sudah pergi ke sana dan untuk membuat refleksinya, saya bisa menggunakan laporan agama SMP saya ketika saya mendapat tugas berkunjung ke sana. Namun saya kira hal itu akan membuat saya tidak berbeda dari seorang penipu, toh seorang penipu tidak hanya menipu orang lain tapi juga menipu dirinya sendiri. Akhirnya saya putuskan untuk mencoba live in di sana dengan terlebih dulu meminta izin kepada Sr. Shinta, pengelola panti wreda “Nazaret”.

Ketika saya datang, rasanya ada perasaan takut dan cemas, jangan-jangan saya tidak diterima dengan baik oleh oma-oma di sana. Di dalam bayangan saya, oma-oma itu cuek-cuek dan selalu rewel minta dilayani atau bahkan pada stres karena dibiarkan merana oleh kelurganya di panti jompo. Tapi semua paradigma itu berubah ketika saya menjejakkan kaki di sana. Saya masuk ke dalam sambil masih menenteng tas dan diajak ikut berdoa koronka bersama oma-oma. Memang sih, di sana ada kebiasaan selalu berdoa koronka setiap jam tiga sore. Saya kira hidup di panti jompo tidak berbeda dengan kehidupan di biara. Lihat aja rutinitas di sana proporsi waktu rohani sangat banyak mulai dari misa pagi, doa bersama, koronka sampai berdoa rosario.

Sebetulnya tugasku di sana tidaklah banyak hanya membantu di dapur, membagikan makanan, memimpin doa, ikut senam pagi bersama oma-oma, menemani oma-oma berjemur di bawah matahari pagi, mencuci piring dan sisa waktunya dipakai untuk menemani oma-oma bersharing ria akan segala pengalamannya. Di sana, ada sekitar 20 oma-oma dan saya mengenal sedikit mereka, mulai dari oma Arni, Oma Kristin, Oma Kristina, Oma Ken, Oma Aladin, Oma Eli, Oma Wati, Oma Heni, Oma Yati, Oma Heti, Oma Atun, dan Oma Weti.

Percaya atau enggak, hidup di panti jompo itu sangat mahal lho. Bayangin aja untuk hidup dan tinggal di panti bisa mencapai Rp 700.000 per bulan. Hal ini berarti sebagian besar dari mereka berasal dari keluarga yang berkecukupan. Beberapa sih ada yang masih melajang sampai tua dan ada juga yang sudah di tinggal suami dan mungkin dimasukkan ke panti karena anak-anaknya atau keluarganya sudah kerepotan mengurus anak-anaknya sehingga tidak sempat mengurus orang tua mereka. Terus terang, saya tidak akan dan tidak mau memasukkan orang tua saya ke panti jompo. Toh, bagaimanapun orang tua saya adalah orang yang telah melahirkan, merawat, dan membesarkan saya meskipun sebagian besar di antara mereka sudah hidup bahagia di panti itu.

Saya merasa mereka tidak kesepian di sana walaupun ada beberapa oma yang tidak pernah dikunjungi oleh keluarganya sampai bertahun-tahun. Salah satunya adalah Oma Kristin, ia berasal dari Cianjur dan berkat kemurahan seorang pastor, ia dimasukan ke panti karena ia hanya tinggal sendirian di rumah kontrakan. Karena itu, saya merasa kasihan padanya dan mau menjadi oma angkat saya. Saat itu, saya berjanji bila ada liburan lagi, saya mau mengunjunginya.

Kebanyakan dari oma-oma itu sudah menderita penyakit antara lain asma, diabetes, rematik, parkinson. Nah dari semua itu, saya merasa kasihan dengan dengan oma Atun, sebab ia menderita sakit rematik sampai-sampai ia harus menggunakan kursi roda kemana-mana. Oh iya..., Oma Atun ini adalah oma yang paling tua, ia berumur 94 tahun dan menderita sakit diabetes dan harus menjalani diet ketat. Satu jari kakinya sudah berwarna putih dan entah kapan akan diamputasi. Tapi, saya lihat, ia merasa sangat bahagia di sana dan ia selalu berbicara mengenai makanan terus mulai dari peuyeum, jenang, getuk, gudeg dan pada ulang tahunnya nanti ia meminta kepada suster dibelikan mie yamin manis. Ketika ia dan bersama oma-oma lainnya berjemur di pintu panti ia menggunakan topi bundar dan tertidur persis seperti seorang anak yang sedang tertidur di kursi. Seorang suster melihatnya dan merasa mungkin oma Atun kepanasan dan dipindahkan ke tempat yang teduh dan menyisirinya sebab rambutnya njegrak kayak gaya rambut spike yang sedang digandrungi anak muda sekarang sekarang. Ketika disisiri, banyak sekali rambut putihnya yang rontok dan ia bercerita tentang keinginannya ketika nanti meninggal didandanin pakai baju malaikat seperti Oma yang meninggal sepuluh hari yang lalu. Ia ingin dikubur di samping suaminya di kuburan pandu. Tapi, kata suster kuburan pandu sudah penuh dan bila dulu tidak disiapkan, sekarang sudah tidak ada tempat dan akhirnya akan dikremasi. Dengan nada menggoda suster berkata nanti dimakamkan menggunakan pocong dan dibungkus kayak lontong sambil diberi lipstik berwarna hijau, tapi Oma Atun tidak mau dan ia heran kenapa awalnya ngomongin makanan kok bisa sampai ke masalah kematian. Tapi ia berkata akan pasrah pada orang yang hidup bila ia meninggal

Banyak sekali kejadian lucu di sana, mulai dari senam pagi oma-oma yang mirip joget anak TK, oma-oma yang berebut kursi, oma-oma yang suka menggosip, oma-oma yang lupa menaruh tasnya dan uring-uringan mencarinya, oma-oma yang selalu membuang pampersnya di mana-mana, oma-oma yang mengeluh pengasuhnya pelit memberi gula dan susu pada oat mealnya, sampai oma-oma yang setiap jam empat pagi selalu membawa bungkusan yang berisi pakaiannya dan ingin pergi dari panti dan hendak pergi ke Kali Wetan. Namun, untunglah pintu panti selalu dikunci dan oma-oma yang lain menakutinya bahwa di luar sedang banyak polisi yang akan menangkap oma-oma yang hendak kabur dari panti. Pokoknya di dalam panti banyak sekali deh kejadian-kejadian konyol yang mungkin tidak akan pernah ada di luar panti atau bahkan di seminari sekalipun.

Di panti saya dijadikan teman mengobrol dan bernostalgia mengenai segala pengalaman mereka. Oh iya, beberapa dari mereka kalau bernyanyi kebanyakan menyanyikan lagu-lagu Belanda dan ada beberapa dari antara mereka yang menggunakan Bahasa Belanda sebagai bahasa pengantar. Ada sih satu orang Belanda asli yang tinggal di panti dan saya kira waktu mudanya pasti sangat cantik. Tapi, toh secantik-cantiknya wanita kalau sudah tua akhirnya berkeriput juga. Oh iya, ada Oma Heti yang memberi kertas-kertas yang berisi doa-doa dan oma Aladin yang memberi saya handuk dan banyak sekali makanannya. Saya tinggal di kamar Oma Aladin dan karena kehadiran saya, ia terpaksa hijrah ke kamar sebelah. Satu lagi ada satu kerepotan kalau saya mandi, soalnya kamar mandi di panti tidak ada selot atau penguncinya jadi ketika saya mandi, kaki saya harus repot menahan pintu agar tidak ada oma yang masuk dan melihat saya mandi.

Ada satu oma yang bernama Oma Ken, ia selalu diam terus sepanjang hari dan kadang melamun. Ketika saya dekati, ia bercerita ia tidak punya agama dan tidak percaya akan adanya Tuhan. Sebetulnya saya kasihan pada oma yang satu ini tapi karena oma ini terlihat tidak bisa memberikan interaksi yang cukup seperti oma-oma lain kepada saya, saya akhirnya pergi. Mungkin ia merasa kesepian. Mungkin, ada pengalaman tertentu yang membuatnya merasa tidak percaya Tuhan tapi saya yakin di dalam dirinya ia punya kesadaran dalam bersyukur

Begitulah pengalaman saya di panti jompo. Paradigma saya mengenai oma-oma yang berada di panti selama ini ternyata salah. Mereka ternyata sangat baik dan ramah. Saya kira mereka adalah orang yang beruntung sebab mereka memiliki umur yang panjang jika dibandingkan orang lain. Saya kira hidupnya di panti selalu terjamin sebab perawat di sana sangat baik dan rela mengabdi untuk melayani orang-orang tua yang katanya sudah produktif padahal bila mau bercerita kayaknya mereka memiliki segudang pengalaman. Segala fasilitas rasanya cukup baik, mulai dari gereja yang berada di sebelahnya dan rumah sakit yang berada di depannya yang siap 24 jam bila terjadi apa-apa. Di sana ternyata mereka sangat mengharapkan saya untuk menjadi imam dan hal ini menguatkan saya sebab saat ini saya merasa bimbang dan cemas mengenai keadaan hidup dan panggilan saya. Semoga aja oma-oma dan seluruh pengurus panti itu selalu dilimpahi rahmat yang berlimpah. AMIN.

EMANUEL AGUNG WICAKSONO

Seminari Menengah Mertoyudan 2007

Atletis..? Emang Gue Pikirin

Cewek-cewek mana sich yang enggak doyan ngeliat cowok berbadan atletik. Mungkin, tubuh atletik adalah idaman setiap pria normal. Tak heran, ada orang yang rela mati-matian ngebentuk badannya biar kayak badannya Brad Pitt mulai dari dengan fitness di gymnasium tiap hari ampe mengkonsumsi berbagai obat-obatan.

Tubuh yang kurus kayak anak enggak keurus yang saya miliki mungkin memang enggak trennya sekarang. Entah kapan tren kayak gini muncul ke permukaan. Mungkin, tren kayak gini muncul ketika nanti semua pria di dunia sudah punya badan atletis semua sehingga banyak orang mulai bosan melihat tubuh-tubuh nan atletis dan beralih pada tubuh kurus.

Apa yang bisa saya lakukan untuk merubah tubuhku menjadi lebih ideal. Terus terang, dulu, saya sempet mati-matian ngebentuk otot yang ada di tubuhku. Entah dengan jogging sore hari, push up ratusan kali sehari, sampe makan telor mentah nan anyir. Semua itu saya bela-belain ngelakuinnya demi impian punya tubuh yang ideal.

Namun, apa daya Tuhan berkehendak lain. Tubuhku entah kenapa tidak ada perubahan. Yang ada Cuma pembengkakan di perut alias buncit. Aneh ya…, badan ceking kayak tiang listrik kayak gini punya perut agak cembung. Dulu, saya kira ini akibat cacingan. Saya coba minum obat cacing secara rutin. Ternyata, tidak ada perkembangan. Apa mau dikata, segala usahaku nampaknya sia-sia. Mungkin, gen di dalam tubuhku memang tidak mengizinkan diriku punya badan nan atletis.

Kini, saya coba memformat ulang paradigmaku terhadap diriku. Tubuh ideal itu memang indah, namun belum tentu sehat. Tubuh yang ideal karena dicekoki berbagai macam ramuan bisa jadi malah tidak menyehatkan. Meskipun tubuhku kurus kering begini, saya rasa saya sudah cukup sehat. Selama beberapa tahun ini, saya tidak pernah mengidap penyakit apapun. Paling Cuma flu sebentar dan sehabis diistirahatkan, besoknya udah sehat walafiat. Bukan sulap, bukan sihir. Hebat khan…?

Kadang saya berpikir, siapa sih yang menentukan dan mampu mengkalsifikasikan tubuh seseorang ideal atau tidak…? Saya kira jawaban pastinya terletak pada diri kita sendiri. Mungkin, selama ini kita terlalu termakan perkataan iklan atau media yang dibanjiri oleh banyak hal yang wah seakan-akan hal yang ada di media itu adalah hal yang paling ideal sehingga gambaran tubuh ideal itu langsung tertuju pada sosok yang aduhai nan elok kayak Luna Maya bagi kaum hawa atoe Dede Yusuf yang kini lagi sibuk jadi wakil gubernur jawa Barat bagi kaum Adam

Sebagai manusia, memang kita sering mengharapkan hal yang baik termasuk tubuh kita sendiri. Hal itu sangat wajar dan manusiawi. Semua orang suka keindahan. Namun, apakah semua orang mesti menjadi ideal menurut gambaran ideal yang kini berlaku di masyarakat atau media massa. Saya kira tidak. Media massa menggempur kita habis-habisan dengan berbagai macam hal yang wah itu tidak terlepas tujuan mengejar profit dan tetek bengeknya yang selalu mengiringi dibelakangnya. Maka, janganlah kita ikuti arus semacam itu.

Sudah seharusnya kita menempatkan diri kita menjadi penonton yang cerdas. Bisa memilah berbagai input yang masuk ke dalam pikiran kita. Karena, bagaimanapun juga, input semacam itulah yang membentuk kepribadian kita. Kitalah yang seharusnya memegang kendali untuk memasukan input-input tersebut. Bukan orang lain.

Kembali ke urusan badan, badan yang kita miliki adalah sebuah anugerah Tuhan. Kita layak mensyukurinya apapun bentuknya atau wujudnya. Toh, Tuhan menciptakan segalanya baik adanya. Merawat diri itu penting. Namun, merawat tubuh itu tidak mesti mengubah diri dan mempermak dirinya sedemikian rupa mengikuti rupa sosok nan ideal.

Tiap orang itu punya karakteristik fisik yang berbeda dan itulah yang menjadikan setiap orang itu unik. Hal ideal itu tergantung bagaimana cara kita memandang. Kita tidak perlu memaksakan diri kita untuk mengikuti hal ideal yang ditawarkan pada diri kita. Saya belajar banyak bagaimana rasanya bersyukur atas segala hal yang telah saya miliki. Rasa bersyukur itu telah mendorongku untuk menghargai diriku apa adanya. Meski tampang pas-pasan, saya rasa diriku sudah cukup baik. Menghargai diri itu penting, Karena, kalau bukan kita, siapa lagi yang bisa menghargai diri kita sendiri?

Pribadi berkualitas tidak sekedar mengandalkan fisik belaka. Manusia itu adalah makhluk yang kompleks. Ia punya beberapa aspek kehidupan. Mungkin, di satu aspek saya memiliki kelemahan. Tapi, saya yakin saya punya kelebihan di dalam aspek lain. Kelemahan yang ada janganlah dianggap sebagai hambatan. Tapi sebaliknya, kelemahan itu adalah bagian dari kekayaan yang kita miliki dan membuat kita bisa menemukan pribadi kita yang sesungguhnya.

Saya merasa menghargai diriku dan mensyukurinya apa adanya lebih membuatku merasa bahagia. Rasa bahagia itu bukanlah ditentukan oleh orang lain tetapi ditentukan oleh diri kita sendiri. Jadilah bahagia atas dirimu sendiri.

Memaknai Hidup itu Uenak Tenan

Pernah enggak kamu ngerasa hidupmu terasa hampa sekaligus kering tanpa makna…? Kalo iya…, jangan khawatir, kamu enggak sendirian. Aku juga pernah merasakan hal yang sama. Ih…,bener dech…, hidupku pernah garing banget kayak Ayam crispy ala Mc Donald (bukan iklan lho…?) Hidup cuma sekedar ngalir kayak air di sungai yang berlalu begitu saja tanpa bisa memetik banyak hal yang dari kehidupan itu sendiri.

Sebenarnya…, dulu aku agak enggak peduli dengan hal-hal ini, toh aku ini masih muda. Masa muda adalah masanya seneng-seneng. Aku pernah beranggapan bahwa urusan makna-maknain hidup itu urusan orang-orang tua yang udah bangkotan atoe lumutan.

Namun, paradigma itu berubah. Walaupun aku masih muda toh hidup bagaimanapun hidup perlu dimaknai. Karena dari makna itulah, hidup itu menjadi berharga. Jangan pernah nganggep makna kehidupan itu akan datang dengan sendirinya kayak pizza yang dikirim ketika kita pesan melalui layanan delivery service. Semuanya perlu dicari. Kita perlu proaktif untuk mendapatkan hal yang baik toh itu semua untuk diri kita.

Percaya atoe enggak hidup itu kayak sebuah permainan teka-teki. Di setiap pengalaman yang kita lalui setiap harinya pastilah terkandung sebuah pesan tersembunyi yang harus kita cari dan ungkap sehingga bisa menjadi kekayaan bagi kita sendiri. Pesan yang tersembunyi itu saya maknai pesan Tuhan sendiri yang ingin Ia ungkapkan padaku. Dibutuhkan kejelian dan kepekaan untuk merasakan pesan Tuhan sendiri.

Caranya sangat mudah, Mo tau…? Cukuplah menyisihkan waktu barang lima belas menit sebelum tidur dan coba putar ulang seluruh rekaman peristiwa dan pengalaman yang kamu lalui sepanjang hari. Modal utama yang dibutuhkan Cuma ketenangan. Kalo model merenung masih agak berat untuk kamu, cobalah pake semacam buku diary. Eits ini bukanlah sekedar buku diary yang Cuma diisi komentar dan cerita panjang lebar mengenai pengalaman hidupmu seharian tapi inilah yang disebut dengan buku refleksi.

Pada dasarnya refleksi itu bermakna pantulan. Di dalam buku refleksi ini, kamu bisa menemukan pantulan makna yang terpancar dari pengalaman hidup yang kamu lalui. Percaya dech, efek yang didapatkan jauh sangat besar dari langkah kecil semacam ini.

Mungkin dalam satu hari, hidupmu dipenuhi dengan berjubel pengalaman. Cukup pilihan satu atau dua pengalaman yang paling berkesan dan fokuslah di dalamnya. Fokuslah pada pengalaman yang paling menarik hari itu dan tulislah hal itu di dalamnya. Inget..! hal yang menarik itu tidak mesti pengalaman yang menyenangkan doang tapi juga pengalaman yang kurang menyenangkan. Percaya dech…, hal yang kurang menyenangkan bisa menjadi hal yang menarik jika digali secara lebih dalam.

Sadarilah perasaan apa yang muncul ketika peristiwa itu? Marah? Kesel? Sedih? Kecewa? Seneng? Kagum? Bahagia? Dkk. Telusuri mengapa perasaan itu bisa muncul dan tulislah serta nikmatilah. Hal semacam ini akan membantu kamu mengenal dirimu sendiri dan menyadari segala hal yang kamu miliki. Percaya atau enggak, enggak setiap orang di dunia ini mengenal dirinya sendiri. Coba bayangin, kalo diri sendiri aja enggak kenal mana bisa tuch orang menghargai dirinya sendiri. Kalaupun bisa itu Cuma sekedar gejolak yang muncul karena rasa egois belaka. Refleksi akan mengantarkan dirimu agar lebih sadar akan dirimu sekaligus lingkungan yang ada di sekitarmu sehingga mengajakmu untuk selalu bersyukur karena begitu banyak hal baik yang ada di sekitarku.

Jangan pernah berhenti pada tahap pencarian perasaan yang dangkal tapi telusurilah apakah respon perasaan kita itu sudah pas untuk peristiwa yang kita temui. Kadang, perasaan yang dangkal terlalu memenuhi diri kita sehingga kita tidak mampu menemukan makna dari pengalaman kita.

Terus terang, diriku ini adalah makhluk yang ambisius. Saya mencoba melakukan melakukan terbaik dari apa yang saya miliki termasuk di dalamnya adalah hal belajar. Namun, seringkali mentalku jatuh ketika menjumpai nilai ulanganku merah. Yang ada Cuma perasaan kesal… kesal dan kesal. Udah belajar mati-matian.., eh Cuma dapet nilai merah. Seharian aku jadi enggak mood dan males diajak senyum. Rasanya kalo dalam kondisi semacam ini senyum manisku jadi agak mahal sehingga tidak mau aku ekspose berlebihan.

Melalui refleksi, perasaan negatif semacam ini bisa dibalik 180 persen menjadi perasaan yang positif sehingga kita tidak terus menerus berkubang pada perasaan kesal dan putus asa. Perasaan kesal itu bisa berubah menjadi perasaan yang membakar semangatku dalam belajar ketika aku sadari nilai jelek itu bukanlah akhir dari segalanya. Toh, Aku telah berusaha melakukan yang terbaik dan saya hal ini bukanlah kegagalan. Ini hanyalah cambuk agar aku mau memacu diriku lebih baik. Toh sebuah emas tidak akan menjadi perhiasaan yang bagus dan indah tanpa melalui proses penempaan yang menyakitkan. Saya maknai pengalaman sakit inilah yang menempa diriku agar membuat diriku lebih berkualitas. Saya tidak boleh berlarut-larut terus menerus meratapi hal-hal buruk yang terjadi padaku karena hal itu bisa melumpuhkanku. Life is riding a bicycle, to keep your balance, you must keep moving. Kekuatan untuk mengayuh kehidupan itu bisa kita ambil dari refleksi dan membantu kita untuk tetap memiliki energi untuk terus berjuang.

Saya yakin Tuhan tetap berada dibelakangku dan menopangku. Kini, tinggal bagaimana aku memuluskan langkah Tuhan yang hendak menyokongku dengan belajar lebih giat. Yuppy…, melalui refleksi, saya merasakan Tuhan selalu berkarya di dalam hidupku. Saya yakini hal itu. Tapi, masalahnya tidak setiap saat kita sadar akan karya Tuhan semacam itu. Refleksi membantuku mengingatkan bahwa Tuhan itu selalu hadir dalam setiap peristiwa sehingga saya tidak perlu cemas atau takut. Tuhan pasti akan memberikan hal yang terbaik bagiku sekalipun hal yang terbaik itu terbungkus di dalam peristiwa yang tidak mengenakan sekalipun.

Refleksi menyadariku dan mendorongku agar selalu memaknai hidup secara positif. Percayalah…, hidup ini dipenuhi hal positif. Namun, untuk mendapatkan itu semua, kita mesti berjuang mencarinya. Karena hidup dipenuhi dengan hal positif itulah, saya selalu diajak untuk melihat hidup itu sebuah rahmat. Rahmat itulah yang menjadikan hidup itu begitu bermakna.

Refleksi membantuku menghadirkan kehidupan yang jauh lebih berkualitas di tengah arus zaman yang penuh dengan hangar bingar kesibukan. Tanpa refleksi saya ini hanya akan seperti robot yang tidak bisa mengolah perasaannya dan Cuma disibukan oleh pekerjaan yang bila dipikir-pikir tiada habisnya. Saya jadikan refleksi sebagai saranaku mematangkan diriku agar lebih dewasa dan bijaksana. Bermakna atau tidak hidup kita, kita sendirilah yang bisa menjawabnya sekaligus membentuknya. Sadar atau tidak, diriku itu dibentuk melalui peristiwa dan pengalaman yang saya jumpai. Maka, kucoba merangkai segala peristiwa dan pengalaman itu menjadi sebuah hal yang bermakna sehingga hidupku itu terasa jauh lebih hidup.

Refleksi mengajakku berpikir secara mendalam dan melihat segala sesuatu secara lebih integral sehingga membantu membuat keputusan penting. Karena mampu melihat secara lebih holistic, refleksi kadang membuka jalan keluar yang sebelumnya sama sekali tidak kita sadari dan ketahui. So, refleksi akan mendorong kita agar selalu berharap dan percaya bahwa setiap masalah pasti ada jalan keluarnya karena Kutahu Tuhanlah sendiri yang membuka jalan. Jangan pernah takut memaknai hidupmu sendiri….!