Kamis, 08 September 2011

KETIKA BLACK TIDAK LAGI HITAM

Judul film :Black

Tahun rilis :2005

Produksi :India

Sutradara :Bhansali

Remaja-remaja sekarang boleh jadi menganggap film-film Bollywood itu cupu. Kebanyakan film-film India dikenal dengan kisah cintanya yang monoton dengna bumbu konflik yang terasa dilebih-lebihkan . Selain itu, bagai makan sayur tanpa garam, rasanya kurang afdol jika kita tidak melihat tari-tarian yang aduhai di dalam film Bollywood. Namun, film Black adalah pengecualian. Kesan yang sudah terlanjur menempel pada citra film India seperti diungkap di atas sama sekali tidak ditemukan di dalam film ini.

Film yang digarap oleh Bhansali, sutradara muda dari India ini dikemas secara baik dan terasa berkualitas. Dalam Majalah Time, film Black ini dianggap masuk ke dalam jajaran film terbaik sepanjang tahun 2005, sekasta dengan film berkualitas lainnya seperti Memoir of Geisha, karya Richard Corliss. Dengan refleksi mendalam, film ini mengantar orang yang menontonnya untuk menemukan berbagai makna kehidupan khususnya makna belajar yang sesungguhnya.

Hakikat belajar adalah sebuah proses transformasi. Peralihan dari tidak tahu menjadi tahu dalam proses belajar ditampilkan secara implisit dalam film ini. Michelle, seorang gadis yang terlahir buta dan tuli menjadi sebuah simbol orang yang mengalami proses transformasi ini. Tanpa proses belajar, manusia tidak lebih dari orang yang buta dan tuli seperti Michelle.

Segala rangsangan dari luar tidak mampu ditangkap dan akhinya hanya mengungkung dirinya dalam dunianya sendiri. Karena tidak dimengerti hal yang terjadi di luar tubuh, segala rangsangan dari luar hanya dianggap sebagai ancaman. Usaha Michelle untuk menghindari ancaman dan berusaha mempertahnkan diri dalam dunianya sendiri membuat orang yang melihat menggap Michelle gila. Hal itu terjadi karena orang lain pun tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi pada Michelle.

Proses belajar seakan memberi orang mata dan telinga sehingga menjadi sebuah jembatan yang mampu mengantarkan orang untuk peka penerima dan menangapi rangsangan dari luar secara baik. Dengan belajar, Michelle mengalami proses perubahan total. Ia merasakan dirinya bertranseden jauh melampaui apa yang ia sendiri bayangkan berdasarkan berbagai kelemahannya. Ia akhirnya dapat menjadi manusia seutuhnya dan tidak dianggap gila lagi. Halyang hanya menjadi impian semata seperti kuliah dan lulus seperti manusia normal lainnya dapat diwujudkan oleh Michelle berkat usaha kerasnya meskipun secara fisik dia terbatas.

Dalam proses belajar itu, Michelle didampingi seorang guru. Debraj Sarai adalah gambaran seorang guru ideal yang diberikan film ini. Guru ideal adalah guru yang senantiasa berusaha menggali potensi

Yang ada di dalam anak didiknya meskipun harus mengorbankan banyak hal. Sebagai guru, dia benar-benar total mengajar bukan karena iming-iming kesejahteraan tetapi karena kesadarannya mengenai makna pengabdian. Guru adalah pelita bagi para muridnya. Ia memberi pencerahan dan harapan baru meskipun ia sendiri harus menderita. Meski sulit, Debraj berjuang sekuat tenaga untuk mengantarkan Michelleaga r menjadi lebih manusiawi sehigga ia tidak diperlakukan sebagai orang gila atau binatang lagi. Ia yakin di dunia ini pada dasarnya tidak ada yang mustahil. Semua hal dapat terjadi bahkan di saat-saat tanpa harapan sekalipun karena ia sadar segalanya ada di dalam genggaman-Nya. Ia percaya keajaiban akan selalu ada dan terbentuk dari perpaduan antara harapan dan usaha keras.

Debraj Sarai menyadari bahwa belajar itu adalah sebuah proses. Sebuah proses tidak menuntut seseorang mencapai tingkat tertentu dalam belajar. Ukuran pencapaian belajar yang sesungguhnya bukanlah hasil belajar melainkan bagaimana seseorang mampu menggali makna dalam proses yang dilewatinya. Sebagai sebuah proses, setiap langkah haruslah dinikmati. Ya.., nikmatilah setiap proses itu layaknya menikmati es krim, nikmatilah es krim itu sebelum es krim itu mencair.

Kegagalan tidak dianggap sebagai hambatan dalam belajar. Meskipun Michelle berkali-kali gagal lulus ujian universitasnya, debraj sama sekalit diak menggap bahwa Michelle bodoh. Justru sebaliknya, ia terus mendorong anak didiknya untuk berjuang lebih keras lagi. Ia sadar bahwa pengalaman jatuh yang dialami Michelle adalah pengalaman yang berharga dan justru menguatkan. Hal itu akan membuat Michelle dapat terbang lebih tinggi. Non scholae sed vitae discimus., hasil belajar yang sesungguhnya adalah bagaimana seseorang menjadikan apa yang dipelajarinya menjadi modal bagi kehidupannya. Ia berharap Michelle tidak selu bergantung pada dirinya tetapi dapt mandiri karena itulah tujuan dari belajar yang sebenarnya.

Sebuah makna profesionalitas pun disisipkan dalam film ini. Ketika adik Michelle melangsungkan pernikahan, Michelle menyadari bahwa hidupnya terasa kurang tanpa adanya cinta. Ia mencintai Debraj tetapi Debraj sadar ia mencintai dan memperhatikan Michelle selama ini dalam konteks dirinya sebagai guru. Kisah cinta yang diberikan dalam film ini terkesan elegan karena cinta tidak dilihat secara dangkal sehingga film ini tidak jatuh pada cinta picisan yang begitu diumbar dalam film-film lainnya.

Selain itu, film ini memberikan inspirasi bahwa dalam hidup, setiap orang adalah murid sekaligus guru. Hidup ini adalah proses saling transfer ilmu. Di satu sisi kita dituntut untuk menjadi seorang guru yang selalu membagikan ilmunya. Di sisi lain juga dituntut untuk menjadi murid yang tidak akan pernah haus belajar. Pada awalnya Debraj lah yang mengajari Michelle banyak hal. Keadaan itu berubah ketika Debraj mengalami penyakit Alzeimer yang membuatnya kehilangan semua ingatan. Kini, keadaan berbalik 180 derajat, Michelle menjadi guru bagi Debraj dalam mengembalikan ingatannya.

Film ini memiliki kekuatan pada jalan ceritanya. Meskipun kisah yang ditampilkan adalah kisah yang sederhana, tapi film ini mmapu mmeberi kesan mendalam bagi orang yang menontonnya. Kelebihan lainnya, film ini sukses menempatkan camera angle yang sesuai sehingga menghasilkan efek visual yang terkesan dramatis dan mempesona, membuat orang betah bertahan sekitar dua jam menikmati jalannya film ini. Sutradara jeli mengekplorasi hal-hal keicl dan menjadikannya sebuah kekayaan yang bisa dinikmati dalam film ini.

Menikmati film ini serasa menonton suguhan cerdas yang nyata dalam dialog. Salah satu kesan cerdas itu terlihat dari jawaban Michelle ketika diuji untuk masuk Universitas,”Bila Amerika Serikat ada di utara, dimana letak India?, Jawab Michelle dalam bahasa isyarat,”bumi itu berbentuk bulat, oleh karena itu, India bisa terletak dimana-mana.” jawaban ini seakan menyentak dan menyadarkan bahwa kita tidak boleh hanya terpaku pada jawaban yang telah baku. Justru dengan berpikir berbedalah, dunia ini terus berkembang. Percakapan lain yang terasa mengena adalah ketika Michelle mengatakan bahwa hitam yang selalu dilihatnya sebagai orang buta bukanlah sebuah lambang kegelapan dan kesuraman, melainkan sebuah harapan . Harapan itu terpancar seperti sebuah lilin menyala dan menyinari setiap hati manusia yang merasa terbatas oleh kelemahan-kelemahan. Kita di ajak untuk Duc in altum, melihat segalnya secara lebih dalam melalui film ini.

Karena begitu banyak kedalaman yang dikandung dalam film ini, film ini menjadi sangat aik sebagai sebuah bahan refleksi khususnya dunia pendididkan di Indonesia yang carut marut ini. Dengan film ini, kita disadari bahwa pendidikan memiliki makna yang jauh lebih agung daripada hanya sekedar nilai di atas kertas. Belajar adalah sebuah proses untuk hidup yang lebih baik..

1 komentar:

  1. Ternyata, tinggi juga kekuatan persepsi/paradigma/mindset itu. Film India punya persepsi yang ga menarik di mata umum (padahal belum tentu begitu).

    Menarik banget tokoh Michelle-nya.
    (1) Hidup itu belajar, termasuk di dalemnya sharing ilmu, ga ada ruginya sharing ilmu.
    (2) Dari kekurangan yang kita punya, justru kita bisa gunain daya kreativitias untuk mengasah potensi kita yang laen (engga lantas kaku fokus di kekurangan kita), karena kita tuh fleksibel.
    (3) Di luar segala kekurangan kita, kalo kita punya keyakinan bisa, maka jadi beneran bisa.
    (4) Ternyata kita orang-orang yang beruntung, dilahirin ga buta, ga tuli, bisa napas, bisa mengamati, bisa belajar, bisa berpikir, bisa bertindak.
    (5) Berarti ada lagi tahap tertentu, di mana kita bisa ngesampingin persepsi negatif, sehingga bikin kita bisa jadi pemikir yang netral & obyektif.
    (6) OPTIMIS: (a) Optimis buta, optimis tanpa melihat realita, alias OPTIMIS GA REALISTIS. (b) Optimis melek, optimis setelah menganalisa realita, alias OPTIMIS REALISTIS.

    BalasHapus