Kamis, 08 September 2011

Sebuah Awal dari Langkah Besar


Sebuah tugas yang cukup berat diserahkan kepamongan Medan Utama kepadaku selama liburan Idul Fitri. Saya harus merenungi perjalanan hidup yang akan saya tempuh nantinya. Saya dihadapkan pada suatu pilihan yang cukup berat yang berkaitan langsung dengan masa depan saya antara menjadi imam atau menjadi awam. Memang saya sadari sejak masuk Medan Utama memang saya belum berani/bisa mengambil keputusan dengan tegas dan efeknya pun terasa, saya kurang bisa masuk rutinitas formatio di seminari secara total. Selama ini, saya merasa terus terombang-ambing di dalam ketidakpastian dan saya tidak mau hal itu terjadi terus padaku. Oleh karena itu, liburan kali ini saya mencoba berpikir serius mengenai keputusan yang saya ambil.

Saya sadari hidup adalah sebuah rangkaian proses pemilihan. Sekecil apapun hal yang saya pilih hari ini akan sangat menentukan perjalananku selanjutnya. Segala hal yang saya pilih haruslah sesuai dengan nilai-nilai yang saya anut selama ini. Nilai akan mengantarku pada tujuan hidupku. Sekali saya memilih sebuah pilihan, maka otomatis konsekuensi yang terkandung di dalamnya pun akan mengikuti meskipun di dalam benakku, meskipun saya tidak suka akan konsekuensinya. Konsekuensi itu merupakan resiko yang harus saya ambil demi nilai dan tujuan yang ingin saya capai. Satu kali saya memilih sebuah jalan, saya harus total menjalani segala hal yang menjadi konsekuensinya dan mengikuti segala aturan mainnya. Itulah makna sebuah proses, bukanlah hasil yang membentuk kita melainkan perjalanan kita untuk mencapai hasil itu.
Melihat perkembangan panggilanku selama ini ditambah beberapa masukan yang saya peroleh dari orang tua, saya memutuskan untuk sementara ini tidak melanjutkan diri pada tahap selanjutnya yakni solisitasi. Tidak mengikuti solisitasi ini bukanlah akhir dari sebuah proses perjalanan panggilanku untuk menjadi imam. Saya merasa sampai saat ini saya masih memerlukan waktu untuk berpikir dan mencoba peka terhadap apa yang sebenarnya yang Tuhan kehendaki terhadapku.

Mungkin keputusanku tidak memperlihatkan sebuah ketegasan dalam menentukan apakah saya ingin jadi imam atau awam. Namun, saya merasa itulah jalan yang terbaik. Saya merasa saat ini terlalu dini untuk memutuskan sebuah perjalanan hidup yang akan saya jalani seumur hidupku karena saya sadari saya masih berada di dalam masa remaja, masa di mana segala hal yang ada di dalam diriku belum stabil. Saya tidak ingin memaksakan diriku untuk memilih apa yang sampai saat ini masih terlihat samar-samar. Saya tidak mau menjadi frater yang berhenti di tengah perjalanan proses formatio panggilannya karena pada dasarnya ia tidak begitu yakin terhadap pilihannya. Bagiku, perjalanan hidup mungkin masih panjang dan hal yang sangat penting seperti ini tidak perlu dilakukan secara terburu-buru. Dibutuhkan permenungan yang mendalam agar saya dapat memilih hal yang terbaik.

Selain itu, di dalam idealisku, saya ingin menimba ilmu di luar dulu dengan berkuliah di Arsitektur sekaligus melihat dinamika hidup umat yang sesungguhnya. Saya pikir itu akan menjadi sebuah modal yang sangat baik jika nanti saya menjadi imam. Saya mempunyai sebuah cita-cita bila saya menjadi imam saya harus punya nilai lebih dibandingkan imam-imam lain. Saya tidak mau menjadi imam yang hanya sekedar sibuk mengurusi liturgi atau pun misa saja, tanpa bisa membaca realita yang terjadi di umat dan masyarakat. Gambaran imam itu saya lihat dari pribadi Yesus sendiri yang tidak menginginkan seseorang hanya jatuh pada kulit luar sebuah agama tanpa mengerti kedalaman yang sesungguhnya.

Meskipun saya akan berada di luar formatio, saya akan terus membuka diri saya terhadap panggilan Tuhan karena itulah salah satu hal yang bisa saya lakukan sebagai bentuk ungkapan syukur atas segala kebaikan-Nya. Paling tidak, saya harus selalu memegang pedoman bahwa apa yang saya lakukan haruslah demi kemuliaan Tuhan.

Seminari telah memberikan banyak hal mengenai kehidupan. Mungkin, apa yang saya pilih ini tidak seusai dengan kehendak para formator di seminari, tapi saya akan tetap berusaha menjadi manusia yang berkualitas. Terus terang, saya sendiri belum puas dengan apa yang saya pilih sekarang. Namun, saya yakin pada saatnya nanti, saya dapat memilih secara tepat. Maka, untuk mencapai hal itu, saya ingin terus didampingi oleh formator selama saya masih berada di seminari

Seperti seekor lebah pekerja, saya harus senantiasa produktif dan bersemangat. Meskipun pilihan yang saya ambil ini sulit, saya akan tetap berusaha melakukan apa yang terbaik. Saya harus selalu belajar mengolah hidup dengan berefleksi. Dengan begitu, saya akan peka merasakan panggilan Tuhan. Semoga pilihan ini menjadi awal yang baik bagiku dan Tuhan selalu menyertai kita semua.
Mertoyudan, 15 Oktober 2007

Tidak ada komentar:

Posting Komentar